Go Green, Karimunjawa!!

 

Tuhan cinta backpacker. Saya dan banyak pembawa tas punggung lainnya percaya itu, bahwa Tuhan selalu cinta pada mereka yang menempuh perjalanan, dan bahwa para penyusur bumi ini banyak dinaungi keberuntungan.

Sebagai backpacker pemula nan amatir, saya punya banyak cerita-cerita kecil yang menurut saya menakjubkan, yang pasti takkan saya dapat jika misalnya saya menghabiskan hari libur saya dengan menonton tivi seharian. Kawan, menonton tivi terlalu lama itu menghapus keberuntungan-keberuntungan kita untuk mendapati keajaiban-keajaiban kecil diluar sana.

Pagi itu 30 desember 2010 saya sangat menikmati moment saat berada di ujung kapal nelayan, terayun-ayun ombak sambil memandangi pulau-pulau kecil berpasir putih yang betebaran disekitar laut karimunjawa. Perahu kecil kami melaju pelan menembus perairan jernih menuju spot snorkeling pertama. Kejernihan laut memancar dari wajah kami. Ada ketenangan dan kesegaran luar biasa yang saya dapatkan disana, diatas perahu kecil itu. Namun hal berbeda saya rasakan saat naik kapal verry, tak ada kenikmatan rasanya. Di negeri ini setiap menggunakan fasilitas angkutan massal saya seringkali merasa berada ditempat penampungan bencana.

Sesi yang menjadi salah satu favorit saya adalah saat berenang bareng hiu di kolam penangkaran tak jauh dari dermaga nelayan. Sungguh, saya gugup sekali saat pertama kali turun ke kolam dengan hanya berbekal alat snorkel dan kacamata google saja. Apalagi hiu hitam dan hiu putih yang ada di kolam tersebut lumayan banyak. Saya gugup karena sebuah fakta, bahwa hiu ini jelas lebih mahir berenang dari saya, dan dia punya rahang dan gigi yang lebih tajam dari gigi saya. Berdekatan dengan sesuatu yg kita anggap lebih hebat atau lebih mahir memang memungkinkan kita untuk menjadi gugup. Kawan, sebuah persepsi yang dibangun tanpa data dan fakta akurat adalah jalan lapang menuju kesesatan. Hanya dengan melihat rahang yang kuat dan gaya berenang yang lincah telah membuat saya berprasangka buruk terhadap hiu ini. Dalam batas persepsi, saya telah melakukan kejahatan pada si hiu yg bahkan barangkali tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menggigit saya.

Sungguh, pada waktu masuk kolam itu saya masih mengira bahwa hiu-hiu disitu adalah hiu pemakan plankton seperti yang biasa dimakan hiu tutul. Namun saya tertegun ketika orang-orang dipinggir kolam melemparkan daging ikan yang disambut oleh para hiu dengan ganas, mereka berebut makan daging ikan, lalu setelah ikan habis mereka berenang berputar-putar sambil memperlihatkan siripnya di permukaan air. Saya rasa hiu itu sedang mengirimkan pesan bahwa mereka adalah predator terkuat dikolam itu. Pesan saya terima, dan segera saja saya memastikan bahwa tak ada bagian tubuh saya yang sedang terluka, karena seperti hiu pada umumnya mereka sensitif pada darah. Melihat ganasnya ikan-ikan hiu itu dalam berebut potongan daging ikan sebenarnya saya ingin segera naik ke atas kolam, namun satu pemahaman membuat nyali saya sedikit menguat: bahwa saya adalah makhluq dengan struktur mata berada didepan. Kawan, secara umum makhluk yang mempunyai mata menghadap kedepan adalah makhluk yang ditakdirkan sebagai pemburu. Harimau misalnya, mereka mempunyai mata menghadap kedepan agar bisa fokus memburu makanan, mereka tidak butuh mata yang bisa melihat kearah samping atau belakang karena mereka adalah pemburu, yang tak perlu takut akan diterkam oleh rusa atau kelinci dari belakang. Dan kawan, manusia juga adalah makhluk dengan mata menghadap kedepan, manusia adalah sebaik-baik pemburu. Masalah apakah manusia akan menjadi pemburu yang serakah atau bijak itu adalah pilihan, selalu sebuah pilihan.

Berenang bersama hiu hanyalah sedikit hal yang bisa kita nikmati dikarimunjawa, ia adalah semacam sambal yang membuat liburan menjadi lebih menggigit. Menu lain yang bisa kita nikmati adalah terumbu karang nan cantik dan jaim. Kabar baiknya kawan, seperdelapan dari seluruh populasi terumbu karang dunia ada di Indonesia. Itu artinya adalah bahwa lautan kita merupakan kebun terumbu karang terbesar didunia. Mari berteriak hore!! Dikarimunjawa, dengan duapuluh tujuh pulau dan perairan dangkalnya yang jernih kita bisa menghabiskan waktu seharian dengan snorkeling ke berbagai spot yang menakjubkan. Menikmati keragaman terumbu karang yang bertebaran dimana-mana sambil sesekali menggoda ikan-ikan kecil yang berenang-renang lincah.

Namun saya juga harus menyampaikan sebuah kabar buruk, sejak tahun 1998 pemanasan global yang mulai melanda perairan tropis telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang membunuh sebagian besar terumbu karang. Angka kematian terumbu yang disampaikan penggiat lingkungan hidup bahkan mencapai 90 persen. Maka terumbu karang di karimunjawa ini adalah sebagian kecil dari populasi terumbu karang dunia yang masih bisa bertahan hidup hingga saat ini. Terumbu karang yang tersusun dari koloni ribuan hewan kecil yang disebut polip ini sangat sensitif dengan adanya perubahan ekosistem. Mereka rata-rata hanya bisa bertahan hidup pada suhu 20-32 derajad celcius, kenaikan suhu dua hingga empat derajad diatas itu sudah cukup untuk membunuh mereka. Dan kawan, saking sensitifnya terumbu karang ini bahkan satu sentuhan manusia saja bisa membunuhnya. Lain kali saat berfoto bawah air saya akan berusaha untuk tak menyentuh si terumbu karang ini. Saya tak lagi ingin terlibat dalam kematian-kematian mereka. Kadang kurangnya pengetahuan tanpa kita sadari telah menjadikan kita pembunuh, entah itu terumbu entah itu kehidupan lain.

Seperti yang saya tulis di awal, bahwa para backpacker dinaungi banyak keberuntungan. Selama kurang lebih lima hari menikmati sudut-sudut laut dan jelajah darat karimunjawa kami dimanjakan oleh kuliner laut dan masakan bunda (panggilan kami untuk ibu pemilik homestay). Pagi-pagi bahkan sebelum kami bangun bunda telah menyiapkan teh manis hangat dan sarapan dengan berbagai menu, mulai soup ikan hingga baso khas karimun yang nikmat. Pada siang hari, disela-sela snorkeling kami disuguhi makan siang berupa berbagai jenis ikan laut segar yang dibakar dengan bumbu kecap buatan bunda. Jika berada disana pembaca akan takjub melihat cara kami makan, semua makan dengan porsi jumbo. Terlebih lagi geng dholpin yang selalu setia membuat kekacauan, betapa mengerikan cara mereka makan siang.. Hahahah. Takkan pembaca temukan orang yang makan dengan porsi malu-malu seperti cewek-cewek yang sedang kencan pertama di cafe-cafe. Oh, maaf ada. Si eva makan dengan porsi kecil, hanya nasi putih lauk mie dan tempe. Vegetarian yang berada di tengah laut kadang memang terlihat menyedihkan. Hey, hanya terlihat kawan, bukan benar-menyedihkan. Saya yakin eva bahagia saat makan berlauk tempe, karena tempe karimun memang lezat sekali. Pada waktu pertama kali disajikan saja tempe gorengnya langsung habis, saya sampai tidak kebagian, ugh. Ada satu lagi menu favorit kami yang disajikan bunda, yaitu es degan yang selalu tersedia setiap kami pulang snorkeling. Ah, indahnya karimunjawa.

Ayo terus berjalan kawan, menyusuri bumi dan menemukan keajaiban-keajaiban kecilnya, karena Tuhan menunjukkan banyak keindahan yang tak Ia tunjukkan pada mereka yang menghabiskan umurnya didapur dan tempat tidur.

Fajar Subchan, penjual permen, backpacker dan penulis.

-malang, 8 januari 2011-

Jika Keindahan Itu Bernama Gelap

Kini kita kehilangan pesona dunia: Harum kembang, suara burung, warna fajar, telah (berubah) jadi “pegetahuan”. –GM-

Saya tak tau, apakah waktu bisa jatuh hati. Jika ia memang bisa, maka pastilah ia jatuh hati pada tempat ini. Di savana dan hutan baluran ini waktu berjalan lambat-lambat. Ia tak tergesa seperti di kota, tempat segala sesuatu menjadi tua sebelum waktunya.

Jika waktu punya rasa, maka orang yang tinggal dikota besar akan tau hal ini: bahwa lima belas menit sebelum jam delapan pagi adalah waktu yang paling tidak enak didunia. Orang-orang menyetir mobil maupun motor dengan membabibuta, seakan-akan tidak pernah melihat SIM sebelumnya. Dijalanan stock kesabaran memang selalu terbatas, ia seringkali melahirkan emosi-emosi yang susah dijaga. Jadi saran saya, jangan iseng mencari gara-gara dengan mereka yang berada dijalan raya dikisaran jam delapan pagi, karena stock kesabaran yang sedikit itu akan membuat orang mudah lupa bahwa kita pernah upacara dibawah bendera yang sama.

Maka pagi itu 21 november 2010 saya bersyukur, ditengah banyaknya waktu menjelang jam delapan yang saya habiskan dikota, ada hari dimana saya melewatkan jam delapan dengan damai, dengan tanpa tergesa. Di taman nasional baluran, pada jam delapan pagi kita akan disapa suara segar debur ombak dan kicauan burung, dan ketika kita membuka tirai jendela akan segera terlihat ratusan monyet berlompatan disekitar kamar. Tak ada absensi sidik jari, tak ada lampu merah yang macet dan juga segala jenis definisi keruwetan lainnya. Hanya ada matahari pagi, segarnya hutan, putihnya pasir pantai, jernihnya laut dan lucunya ikan nemo yang sedang bermain-main di tengah-tengah anemon si terumbu karang.

Perjalanan ke Taman Nasional Baluran bermula dari ajakan mas Yusuf melalui sebuah pesan singkat, iseng-iseng saya pun meng-iya kan. Dalam data base otak saya, yang namanya Taman itu adalah sebidang tanah di halaman atau ditengah kota dengan beberapa jenis bunga semacam melati atau mawar yang dipadukan dengan bonsai yang tertata rapi, dimana kambing dan sapi dilarang masuk. Namun ketika tau keterangan mas Yusuf bahwa Baluran adalah semacam Africa Van Java maka mulai goyahlah keimanan saya tentang definisi dan bentuk sebuah taman.

Maka begitulah, akhirnya saya berangkat kebaluran dengan teman-teman yang menyenangkan, ada mas Kris, mas Yusuf, Tedo, Irene, Ferri dan Hemy imeh serta pak supir yang saya lupa namanya.. Maaf ya pak L

Dibaluran, ada dua kompleks penginapan. Yang pertama ditengah savana, tempat dimana rusa-rusa liar biasa berkumpul di siang hari, sedang yang kedua dipinggir pantai Bama yang dikelilingi hutan lebat. Jika kawan-kawan memutuskan untuk menginap di penginapan yang ditengah savana maka akan mendapatkan suguhan indahnya kehidupan liar savana dengan latar belakang gunung yang menawan. Sementara kalau memilih menginap didekat pantai Bama akan disuguhi suasana eksotis hutan lebat dengan suara deburan ombak pantai pasir putih.

Pada sabtu malam saat makan di cafe penginapan, kami menyempatkan diri berbincang dengan seorang peneliti dari LIPI dan peneliti dari Brazil bernama Fernando yang sudah beberapa hari tinggal disitu. Dengan bersemangat si Fernando ini bercerita tentang pengalamannya menyusuri hutan siang tadi, kebetulan saat itu ditengah hutan ia bertemu sekawanan srigala yang sedang memburu seekor rusa, dalam waktu kurang dari setengah jam seekor rusa telah habis dimakan oleh kawanan serigala, Fernando beruntung, karena ia sempat mengabadikan moment tersebut dengan sebuah handycam. Waktu kami tanya apakah dia tidak takut diserang kawanan serigala tadi, dengan kocak Fernando menjawab bahwa kalau diserang ia akan lompat ke laut lalu berenang hingga ke bali lol. Fernando juga bercerita, bahwa sehari sebelum kami datang seekor macan tutul lengkap dengan badan dan kepalanya datang kepenginapan namun kemudian pergi lagi. Oiya, dalam versi resmi sebenarnya yang ditemui Fernando itu bukan srigala, tapi anjing hutan.

Hari sudah semakin malam, namun kami masih bernyaman-nyaman ria di cafe penginapan, padahal malam itu kami berencana untuk jelajah hutan mengintip banteng yang lagi cari minum di kubangan. Kawan, kata petugas kawasan Baluran jika siang hari banteng-banteng ini sangat susah dicari karena mereka selalu berusaha menghindari manusia, jadi kalau ingin melihat banteng-banteng ini maka saat terbaik adalah malam hari. Ya, kami memang bermaksud jelajah hutan, namun cerita tentang macan tutul yang datang ke penginapan dan video kawanan srigala yang mencabik-cabik rusa membuat nyali kami ciut, maka kami tak juga beranjak dari cafe. Untuk orang-orang yang bernyali ciut, cafe merupakan tempat yang menyenangkan.

Lewat jam sembilan malam kami mulai berkemas. Entah siapa yang memulai, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan kehutan. Pada waktu ijin ke petugas, saya menyempatkan diri untuk bertanya “Pak dihutan ini masih banyak harimaunya ya?” tanya saya, datar. “Nggak ada, disini sama sekali ngga ada harimaunya” jawab Penjaga, mantab. “Lho, katanya tadi malam ada seekor harimau yang datang ke penginapan?” Lanjut saya, memastikan. “Itu sih Macan Tutul, bukan Harimau. Kalau macan Tutul disini banyak” kata pak penjaga, dengan wajah tanpa dosa. Hhhrrggg,…….

Saya memasuki hutan dengan menghibur diri, seandainya bertemu macan tutul atau srigala toh saya masih bisa lompat ke laut dan berenang ke bali, seperti tips dari Fernando tadi. Namun sayang, ternyata rute yang kami ambil justru berlawanan dengan arah laut, kearah hutan dan savana. Walau menjelang purnama namun hutan tetap saja hutan, tak bisa benar-benar disebut terang. Apa yang sebenarnya kami cari dalam gelap? Benarkah itu hanya tentang Banteng yang mencari minum? Entahlah, kami, terutama saya, tak mempunyai jawaban pasti. Tiba-tiba saja saya teringat dengan komunitas Gothic yang menyukai segala yang gelap. Kami sama-sama memasuki gelap, kami sama-sama mencari sesuatu, namun komunitas Gothic jelas punya tujuan yang lebih kuat “Kami memilih kegelapan bukan karena mencari jalan sesat, keteduhan yang kami ingin” kata kaum gothess.

Belum jauh kami memasuki hutan kami mendapati pemandangan indah, sepasang mata yang bersinar dalam gelap. Walaupun tingginya berukuran srigala, namun saya tetap berdoa dalam hati “Tuhan, semoga ini mata seekor kucing, amin” Mungkin setan tertawa mendengar doa saya, “Walaupun Tuhan maha pemurah mbok ya jangan keterlaluan bodohnya kalau berdoa” barang kali begitu teriak setan sambil tertawa berguling-guling. Biarin, dalam hutan ini saya lebih takut pada Macan Tutul daripada setan, yang takut pada setan cuman si Irene, dia lebih takut bertemu banaspati, hantu berambut api tanpa tubuh daripada bertemu binatang buas. Kadang-kadang, jika berada dihutan perempuan memang aneh..

Ketika memasuki savana tiba-tiba kami semua terdiam, ada suara menggeram-geram tak begitu jauh dari tempat kami berjalan. Kali ini saya tidak berdoa agar itu suara kucing, males diketawain setan :p. Kami semua sepakat, bahwa itu adalah suara harimau, ehm bukan, macan tutul. Kawan, menurut penjaga Baluran, macan tutul ini tak akan mengganggu manusia, jarak sepuluh kilo pun kalau ia tau ada manusia maka ia akan menghindar. Dan kami percaya, maksudku pada awalnya kami percaya. Tapi setelah saya pikir-pikir itu tak masuk akal, buktinya kemarin malam macan tutulnya silaturahmi ke penginapan, bukan menghindar dari manusia. Antara macan tutul dan si penjaga, salah satu pasti sedang tidak beres.

Keputusan bijak akhirnya diambil oleh mas Yusuf, kami diajak balik kepenginapan. Sesampainya di penginapan kami duduk-duduk di tepi pantai. Sekedar menenangkan diri dan menikmati damai. Namun tak lama berselang, kami sudah bersiap-siap untuk berangkat jelajah hutan lagi. Alasannya sederhana, kami belum sempat foto-foto dengan spanduk Explore Solo didalam hutan. Fiuh. Antara spanduk dan kami, salah satu pasti sedang tidak beres.. lol.

Kami pun kembali masuk hutan, sepasang mata yang bersinar tadi masih ditempat semula, namun suara menggeramnya sudah tak terdengar lagi. Tiba di padang savana kami berhenti, sekedar duduk-duduk menikmati bulan bundar yang hampir purnama. Indah sekali kawan, ketenangannya, udara segarnya, hamparan luasnya dan kedamaiannya tak terlukiskan. Ada jiwa yang terasa terbang bebas disana. Ternyata kegelapan memang menyimpan keindahan.

Malang 17 Desember 2010

edisi catatan perjalanan

Fajar

Menghukum Orang Kesusahan

Ada yang memandang Tuhan itu begitu pemarah dan suka menghukum. Saudara2 saya yang punya pandangan seperti ini ketika terjadi bencana akan dengan mudah mengatakan bahwa bencana itu adalah hukuman Tuhan atas dosa2 manusia yang sudah kelewatan, dan sebagai bangsa yang kelewatan kita memang layak untuk dihukum. Suara2 seperti ini memang sedang nyaring, dan disuarakan dari lintas golongan, mulai masyarakat awam hingga pemuka2 agama. Saya tahu, maksud dan tujuan saudara2 saya tersebut sebenarnya baik, mengajak pada pertaubatan dan mengajak kearah kebaikan.
Saya sendiri sementara ini justru sedang bertanya2, benarkah Tuhan sedang menghukum hambanya yang terlalu berdosa? Logika saya memang sederhana, kalau Tuhan memang sedang menghukum pendosa, kenapa yang terhukum justru masyarakat2 pedesaan dan pesisir yang lugu, sementara koruptor2 besar, pengemplang2 uang negara justru tak tersentuh, bisa bersantai studi banding keluar negeri dan jg ada yg nonton tenis malah. Di surabaya, lokalisasi terbesar di asia tenggara pun masih tetap meriah, jangankan kena wedus gembel, hujan abu pun tidak. Masa Tuhan salah menghukum? Kalau logika seperti ini yang dipakai maka sungguh saya prihatin sekaligus khawatir, karena secara tidak sadar kita sedang menghakimi korban2 bencana sebagai kaum pendosa. Menurut saya ini sungguh tak adil dan tak patut. Kita bangsa yang korup dan pendosa, itu mungkin benar, tp gunung meletus adalah sunatullah agar keseimbangan energi bumi tetap seimbang, bumi sedang melepaskan energinya secara berkala. Saudara2 kita yang tertimpa musibah sedang kesusahan, maka janganlah justru menghakimi mereka dengan mengatakan itu adalah hukuman Tuhan. Wallahu a’lam.

Jember, 18 November 2010
-fajar-

Harapan

“Kalender selalu sampai di lembar terakhir, kita selalu tiba di pangkal pertanyaan: Benarkah harapan mungkin?” kata Goenawan mohamad, disalah satu tulisannya. Saya termenung2 saat membaca kalimat ini. Harapan, sebuah kata yang sering membuat saya gelisah, tegar sekaligus gentar. Saya sering menyebut harapan dengan mimpi, walaupun memang tak persis benar maknanya. Mimpi atau harapan membuat malam-malam saya disesaki tanya: saya sedang berdiri dimana? Jauhkah jarak saya dengan mimpi2 saya? Maka saya menjadi gentar, menyadari jauhnya mimpi dari kenyataan. Lalu saya memasukkannya –daftar mimpi- kedalam doa. Saya berdoa berulang2, disaat gelap dan terang. Saya berdoa berulang2 bukan karena takut Tuhan lupa dengan doa saya, atau meragukan kemurahanNYA yang jika saya hanya berdoa sekali maka takkan dipenuhi. Bukan. Saya berdoa berulang2 justru agar saya sendiri selalu ingat akan mimpi yang saya minta. Sungguh, merasa kalah, rasa gentar dan rasa lelah sangat efektif untuk membuat saya lupa dengan mimpi2 saya.
Suatu hari seorang sahabat bercerita, bahwa jika kita selalu mengingat keberuntungan2 dalam hidup kita secara terus menerus maka kita cenderung akan menemukan keberuntungan2 dalam hidup kita, demikian juga sebaliknya, jika yang selalu kita ingat adalah kesialan dalam hidup maka itu juga yang cenderung akan banyak kita temui dalam hidup selanjutnya. Saya setuju dengan yang disampaikan sahabat ini, menurut saya ini adalah konsep syukur: yaitu sebuah kesadaran akan betapa beruntungnya hidup kita.
Dikota malang yang dingin ini, kepada beberapa teman saya pernah menceritakan mimpi2 yang ingin saya gapai hingga akhir tahun. Bukankah kata motivator2 terkenal itu mimpi harus divisualisasikan, juga harus diceritakan? Namun, tak seorangpun percaya saya akan sampai. Dan seperti yang saya bilang, saya juga gentar saat mengingatnya. Kota yang dingin, tanggapan yang dingin.
Saya mungkin lupa, mimpi memang belum menjadi kebutuhan pokok seperti sembako dan sinetron. Segala sesuatu telah di reduksi dan disederhanakan di negeri ini, juga mimpi. ”Kejarlah cita2mu setinggi langit” disederhanakan menjadi ”luluslah dengan nilai tinggi dan carilah pekerjaan yang bagus” Nasehat yang menggoda untuk orang2 yang menatap mimpi dengan gentar seperti saya. Tapi pada akhirnya saya lebih memilih nasehat yang saya ciptakan untuk diri saya sendiri: Dinegeri yang dimiskinkan oleh sistem ini harga cabe saja boleh terbang tinggi, masa mimpi tak boleh tinggi? Kota yang dingin, dengan hati yang sesaat terasa hangat.
Sebenarnya tak selamanya saya melihat mimpi dan negeri ini dengan muram. Setidaknya ada terbersit rasa bangga menjadi anak negeri ketika ingat bahwa republik ini didirikan oleh jutaan orang yang bersemangat, jutaan orang yang berani bermimpi tinggi. Tentang sebuah republik merdeka yang penuh dengan kemakmuran dan keadilan didalamnya. Ya, para pendiri republik ini telah mengajarkan kita untuk berani bermimpi. Yang tinggi.

Malang, 25 juli 2010
-fajar-

Sembilan Puluh Lima Persen (Harapan Part 2)

Masih Tentang mimpi, masih tentang harapan. Suatu ketika saya terharu membaca surat terbuka anis baswedan kepada anak muda Indonesia. Beliau bercerita tentang awal mula republik ini berdiri, bahwa angka buta huruf saat itu 95%. Sungguh, saya tak pernah berfikir tentang angka ini: 95%. karena doktrin yang saya terima sejak kecil tentang kemerdekaan adalah seputar bom, bedil dan bambu runcing. Angka 95% buat saya ternyata bisa bercerita tentang banyak hal. Republik muda itu, yang kita memanggilnya dengan Indonesia memulai langkahnya dengan berat. Sembilan puluh lima persen kawan! Dan saya benar2 tak habis pikir, terharu dan bangga: menuliskan namanya sendiripun mereka tak mampu, namun berani bicara dan bermimpi tentang sebuah negara berdaulat yang sejajar dengan negara2 besar didunia. Mimpi yang tinggi untuk sebuah bangsa yang bahkan belum bisa mengeja. Saya tak tau, apakah dulu mimpi orang2 yang mendirikan republik muda itu ditertawakan atau tidak. Namun sejarah telah bersaksi, mimpi telah membuktikan bahwa ia akan menemukan jalannya sendiri. Kini, enam puluh lima tahun setelah republik muda itu berdiri angka buta huruf tinggal 8%. Kita boleh berbangga bahwa kita adalah sebuah negeri yang tercerahkan. Kini, kita mampu menuliskan nama kita sendiri, namun sayang, bersama angka buta huruf yang pergi, nyali untuk menuliskan mimpi yang tinggi juga ikut pergi.. 

(Malang, 27 Juli 2010. Disela2 kegiatan mengumpulkan nyali)

Tuhan yang Feminin

Saya adalah fajar kecil yang cerewet dan banyak bertanya. Dan menyebalkan. Suatu ketika karena terlalu banyak bertanya dengan agak gusar guru saya berkata “jangan terlalu banyak bertanya, seperti bangsa yahudi saja”. Tentu saja waktu itu saya masih terlalu kecil untuk tau apa itu “terlalu banyak tanya” dan “bangsa yahudi” pengetahuan saya tentang bangsa yahudi hanyalah sebatas tentang kisah para rasul, dimana orang2 yahudi bertanya berkali2 kepada rasul tentang ciri2 sapi yang harus dicari. Maka sayapun menggumam dalam hati “saya kan bertanya tentang pelajaran, bukan tentang sapi” lol
Ketika kemudian saya menjadi mahasiswa, saya bertemu sahabat2 yang alhamdulillah bawelnya lebih parah dari bawel yang menjangkiti saya. Sahabat2 yang hobinya menanyakan, mempertanyakan dan menyatakan hal2 yang kontroversial. Terkadang yang dinyatakan benar tapi tertolak oleh konstruksi sosial, dan tidak diakui sistem. Suatu ketika dalam sebuah diskusi kecil, seorang sahabat yang kini menjadi dosen sebuah perguruan tinggi negeri islam ternama di surabaya berkata ” memakai jilbab itu tidak wajib” ujarnya dengan gaya yang nyentrik, khas sidoarjo. Seorang sahabat lain segera terpancing ” wah ngawur” ujarnya dengan berapi2. Dengan tenang sahabat pertama tadipun tersenyum penuh kemenangan, kumis anehnya yang setia ikut kemana2 bergerak2 mengikuti pola senyumnya. “Yang wajib itukan menutup aurat, bukan memakai jilbab. Menutup aurat bisa dengan apa saja, bisa dengan sarung, bisa juga dengan selimut, tak harus dengan jilbab” lanjutnya, mantab. Hahahha saya tertawa lepas dalam hati, akan saya tunggu masa nya tiba. Saya akan lihat apakah kelak istrinya akan pergi ke mall dengan memakai selimut, atau memakai kain gulungan, atau memakai spanduk yang sudah tidak terpakai. Kawan, terkadang kebenaran memang memilukan.
Beberapa waktu yang lalu di penghujung malam, disebuah tempat yang damai di jogja saya larut dalam diskusi dengan dua orang sahabat, seorang santri gontor dan seorang TKW penjual shampo baik hati yang memberi kami tumpangan menginap. Sahabat dari gontor ini bercerita, tentang Tuhan laki2 dan Tuhan perempuan. “Dahulu saya mempersepsikan Tuhan itu sebagai Tuhan laki2, Tuhan yang maskulin. Tuhan yang gemar menghukum jika saya berbuat salah” curhatnya, memelas. Dan saya pun terharu. “Akibat dari persepsi dari Tuhan maskulin ini kehidupan saya jadi serasa terkekang. Langkah saya jadi terbatas karena takut salah, takut dihukum” lanjutnya. Dan saya masih terharu.
“Sekarang saya mempersepsikan Tuhan sebagai Tuhan perempuan, Tuhan yang feminin. Dalam persepsi saya sekarang, Tuhan adalah sosok yang lembut dan pemaaf. Tuhan yang penyayang. Dengan persepsi saya sekarang, hidup jadi lebih tenang dan lebih bebas” tutupnya. Sejenak dia terdiam, perempuan penjual shampo terdiam, saya terdiam, dan Mas Jek yang sedang tidur lelap didalam rumah pun juga terdiam.
Baiklah, saya ingin menanggapi.
Menurut saya sah2 saja persepsi sahabat dari gontor ini tentang Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri berkata “Aku adalah seperti yang kamu sangkakan”? Walaupun pendapat yang lebih konservatif mengatakan bahwa Tuhan itu bukan laki2 dan bukan perempuan. Yang ingin saya tanggapi adalah persepsi tentang laki2 dan perempuan itu sendiri, persepsi tentang maskulin dan feminin. Ah, kawan, dewasa ini menurut saya terlalu tergesa2 jika mendefinisikan lelaki dengan tegas, keras, dan senang menghukum. Dan mendefinisikan perempuan dengan lembut dan pemaaf serta penyayang. Mendefinisikan laki2 dan perempuan seperti itu bisa saja tepat, tapi kita harus mundur 75 tahun kebelakang dulu:)
Jadi begini kawan, walaupun sebenarnya ide lama, tapi saya senang dengan ide “Tuhan yang lembut dan pemaaf, serta pengasih dan penyayang, seperti dalam kalimat yang melengkapi bismillah” namun saya sedikit geli dengan definisi dan persepsi tentang laki2 dan perempuan itu sendiri. Bukankah sudah nyata, bahwa engkau dilahirkan dengan nama luthfi, yang artinya Lelaki yang Lembut? Bukan Lathifah, yang berarti perempuan yang lembut. Namamu sangat “mudzakkar” kawan, bukan “muannas”. Atinya sifat lembut itu juga bisa sangat lelaki. Maka kutunggu undanganmu disebuah warung kopi, untuk mendiskusikan masalah ini lebih jauh. Atau, aku akan tetap geli.

Sebuah doa: Wahai Tuhan -yang maskulin dan feminin- terimakasih karena telah memberikan saya sahabat2 yang bawel, dan mohon berikanlah lebih banyak sahabat dari jenis mereka. Tapi Tuhan, satu istri yang bawel saja saya rasa sudah cukup. Itupun jangan yang terlalu bawel.. Amin.

(Indonesia, 07 Juli 2010)
-fajar-

Bintang-Bintang

Ini adalah kisah tentang sebuah negeri yang begitu menerima perbedaan, negeri kita, nusantara. Saat berbincang dengan seorang sahabat dia bercerita tentang tari, ada pola mengagumkan tentang tari2an di Indonesia: Dari arah paling barat, aceh, orng menari dengan posisi duduk2, semakin ketimur di jawa, kalimantan dan sulawesi orang menari dengan posisi semakin berdiri, hingga sampai di papua orang menari dengan melompat2. Sbuah keragaman yang tersusun indah. Tak ada satupun negeri yang seperti ini, tidak negeri jauh, tidak pula negeri tetangga. Tuhan menyusun Indonesia terlalu sempurna.
Mungkin kita terlalu terbiasa dengan perbedaan. Bahkan perbedaan2 yang ekstrim sekalipun, karena memang atas dasar itulah negeri kita disusun.. Konon namanya adalah kemajemukan. Bhineka tunggal ika. Walau saudagar dan sudra, tapi tetap merasa sebagai saudara.
Setiap ada tugas keluar kota biasanya saya selalu menyempatkan diri jalan2 keliling kota, jalan kaki saja. Suatu malam ketika jalan kaki meyusuri trotoar dijember didekat gramedia saya menemukan seorang lelaki yang meringkuk di trotoar sambil memeluk sebuah tas, tak terbayangkan dinginnya karena hari baru saja hujan dan trotoar tempatnya tidur bahkan belum mengering benar. Tak sampai setengah jam jalan kaki saya menemukan banyak sekali orang2 yang senasib dengan laki2 pemeluk tas tadi. Sungguh, trotoar adalah tempat tidur terpanjang didunia.
Namun menurut saya ada jalanan yang lebih bisa mewakili bhineka tunggal ika dengan lebih pas dari pada jalanan di jember, yaitu jalan dhoho kediri, yang merupakan salah satu ruas jalan utama di kediri. Kalau malam-malam kita jalan menyusuri jalan doho, dengan mata telanjang kita akan lihat betapa disepanjang jalanan ini begitu banyak jenis makanan tersedia, mulai pecel tumpang, urap2, ayam goreng, sate, roti, hingga berbagai jenis makanan lainnya.. Yang tentu lebih banyak adalah pengunjungnya, tertawa canda menikmati malam sepanjang doho. Saya gembira melihatnya, inilah pesta ala rakyat. Tak ada dana trilyunan ala century, tak ada penggelapan senilai milyaran ala markus pajak. Ya, inilah pesta rakyat. Namun kawan, jangan lupa, ini adalah negeri yang berslogan Bhineka Tunggal ika, smua yang berbeda hidup di alam yang sama. Dijalan doho yang menyenangkan ini, jika hari semakin malam maka akan semakin banyak oarang2 dengan tampilan menyedihkan terbaring begitu saja sepanjang jalan, disela2 penjual makanan, adu banyak dengan mereka yang berpesta menikmati malam. Terbaring tanpa masa depan, sambil menatap bintang bintang. Disekolah, selamanya kisah tentang bintang2 adalah kisah tentang keindahan. Dijalanan, selamanya kisah tentang bintang2 bersaudara dengan kelaparan. Tentu saja, saya bukan orang yang taat beribadah. Namun malam itu gemetar hati saya saat ingat sebuah kalimat bijak, yang mengatakan bahwa akan dilaknat oleh malaikat seorang yang tidur dg perut kenyang sementara tetangganya ada yang kelaparan.
(Ditulis sepotong potong sepanjang malang, jember dan kediri. 1 April 2010)